• Imagen 1 JOURNALISM CLUB
    INTERNATIONAL ISLAMIC UNIVERSITY MALAYSIA
  • Imagen 3 JOURNALISM CLUB
    INTERNATIONAL ISLAMIC UNIVERSITY MALAYSIA(IIUM),

Followers


Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Tuesday, May 22, 2012

[Tarbiyah] Melangkah Walaupun Payah


In the name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful.

http://paksi.net/v1/wp-content/uploads/2012/05/holdmyhand.jpg
Melangkahlah walau payah, kerana itulah mahar ke Jannah!


Di tengah-tengah musim revision week ini, sering kita dengar perkataan nantilah, kejaplah, petang nilah aku study dan sebagainya. Moga artikel dibawah mampu menghapuskan sifat malas didalam jiwa bagi mengharungi perjuangan sebenar sebagai seorang mahasiswa. InshaAllah.




"Allahumma la sahla illa ma ja'altahu sahla. Wa anta taj'al hazanassou'ba in syi'ta sahla"
Ya Allah! Tiada kesenangan melainkan pada perkara yang Engkau jadikan kesenangan padanya. Dan Engkau menjadikan kedukacitaan dan kesukaran sebagai mudah dan senang jika Engkau kehendaki.

Mahar sebuah kemanisan

Semakin payah perjalanan, semakin manis kejayaan yang bakal dirasakan. Boleh jadi kemanisannya begitu signifikan sehinggakan kita lupa bahawa kita pernah melalui kepayahan sebelumnya. Mengharap pada sebuah perjalanan yang mudah selalu membuatkan kita kalah ketika kepayahan menjengah. Tujuan kita besar, matlamat kita hebat, namun langkah kita selalu tersekat kerana mengharapkan kejayaan yang dekat dengan perjalanan yang singkat. Keinginan untuk mencapai sesuatu yang kita yakini keutamaannya, harus sentiasa disertai kesanggupan menempuh segala kepayahan yang bakal muncul.

Sang mentol lahir setelah begitu banyak siri kegagalan yang ditempuh Thomas Edison dalam upaya merealisasikannya. Namun, manisnya kejayaan beliau sampai boleh dikongsi dengan seluruh dunia. Nikmatnya ketika sampai di puncak gunung tak mungkin dirasai oleh orang-orang yang tidak cukup sabar menempuh keperitan mendaki. Ada satu ungkapan yang boleh kita renungkan, “it’s not only about the destination, but it’s about the journey”. Kejayaan itu adalah sebuah anugerah yang dikurniakan Allah kepada sesiapapun yang Dia kehendaki. Namun, kita harus memilih perjalanan yang ingin kita lalui. Jadi, jangan risau wahai sang murabbi jika binaan belum menjadi. Boleh jadi di tanganmu nanti akan lahir binaan asli yang menjadi tiang-tiang kebangkitan Umat ini.



Payah itu lumrah perjuangan

Perjalanan hidup para pejuang sentiasa disertai kepayahan sepanjang jalan. Nabi Ibrahim AS diuji oleh Allah SWT dengan kepayahan demi kepayahan di setiap fasa kehidupannya, sejak muda belia sehingga tua, dan akhirnya Allah mengiktiraf baginda di dalam Al-Quran atas kejayaannya menghadapi dan melepasi setiap kepayahan yang didatangkan.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”…” 
(al-Baqarah: 124)

Kepayahan yang dihadapi oleh baginda Rasulullah SAW juga sangat dahsyat, disusuli oleh sukarnya perjalanan yang dihadapi para sahabat baginda SAW. Peluh, darah, air mata, harta, bahkan jiwa, sudah banyak sekali dikorbankan untuk memastikan perjuangan menegakkan kebenaran itu sentiasa berlangsung. Akhirnya Islam sampai kepada generasi kita.
Itulah lumrah perjuangan.

Hidupnya sesebuah perjuangan itu pasti disertai kepayahan dan pengorbanan. Kepayahan itulah yang menjadi ‘bunga-bunga’ yang ditaburi di sepanjang jalan para pejuang. Pengorbanan itulah yang menjadi bara agar api perjuangan menegakkan kebenaran dan menyebarluaskan kebaikan itu tidak pernah padam.



Janganlah kepayahan menggugah langkah

Perjuangan pertama yang perlu kita gencarkan dalam usaha menyebarluaskan kebaikan adalah perjuangan melawan kehendak dan dorongan hawa nafsu diri sendiri. Langkah seterusnya adalah untuk berhadapan dengan faktor-faktor luaran, setelah kita berjaya melepasi ‘musuh-musuh’ dalaman. Ya, permulaan inilah yang paling payah. Setiap niat dan tekad selalu disusuli dengan ujian malas dan beralasan. Pada paginya iman kita segar dan kita telah membuat tekad untuk turut serta pada program tarbiyah yang akan diadakan pada malamnya (contohnya). Menjelang malam, kemalasan menjengah, alasan pun muncul agar kita meminta uzur. Langkahpun diatur untuk berundur.

Bagaimanakah kebangkitan Umat akan bisa terjadi jika para pemuda yang menjadi nadi perjuangan ini sering berpatah balik dan tidak bersungguh-sungguh? Bagaimana mungkin kita dapat mencapai matlamat-matlamat yang diimpikan jika alasan-alasan yang terkumpul itu lebih banyak daripada amal dan pelaksanaan? Jika perjuangan itu sebuah tubuh, maka para pejuang adalah jantungnya. Jika jantung malas berdegup dan terhenti, perjuangan akan menjadi layu dan mati.

Ketika para pemuda di negara-negara Umat Islam yang sedang di ambang peperangan diberi kemuliaan oleh Allah dengan tidak mempunyai pilihan lain melainkan untuk istiqamah dalam mempertahankan kebenaran dan memperjuangkannya, kita diberikan ‘kelonggaran’ dengan sering memilih untuk beralasan dan melalaikan perjuangan. Ketika kita kasihan melihat mereka yang tiada ‘kehidupan’ seperti kita, mereka bahkan kasihan melihat kita yang hidup ‘selesa’ dalam dakapan lemahnya azam dan cita-cita.

Di saat ayat-ayat Al-Quran dilantunkan kepada kita, “berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan mahupun merasa berat”, adakah hati kita tidak tersentuh untuk terus teguh? Mungkin kita merasakan mampu memberi alasan-alasan yang ‘wajar’ apabila dipersoalkan di hadapan Allah nanti. Jika ‘payah’ itu adalah sebuah alasan yang kita rasakan wajar, maka para rasul lebih dahulu wajar memberikan alasan-alasan tersebut kerana kepayahan yang mereka alami maha dahsyat. Begitu juga para pemuda di negara-negara Umat Islam ditindas lebih wajar memberikan alasan. Kepayahan apakah yang dapat kita hadirkan di hadapan Allah untuk dijadikan sebagai alasan nanti?

Walau kita terpaksa menitiskan air mata kerana sakitnya perjalanan yang ditempuh, janganlah kita memilih untuk berpatah balik semata-mata untuk menikmati ketawa yang tidak lama. Walau kita terpaksa menanggung keperitan jiwa akibat perjuangan yang begitu mencabar dan berliku, janganlah kita tinggalkan para pejuang dan memilih dunia yang begitu mengiurkan.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” 
(al-Kahfi: 28)

Melangkahlah walau payah, kerana itulah mahar ke Jannah!

 sumber: http://paksi.net/v1/2012/05/tazkirah-melangkah-walau-payah/


Friday, May 18, 2012

[ARTICLE] THE VICTORY OF DIGNITY - انتصار الكرامة

 In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 


 

Mass Hunger Strikes by Palestinians


Palestinians are acutely aware of the power of peaceful protests of the Arab Spring, discussing them as a strategy for themselves. The hunger strikes represented a new emphasis on nonviolent dissent and reflected some of the characteristics of the Arab awakening: They were well organized, had massive support among the Palestinian public, and occurred over a period of time and on a large scale.

Most of the 1,600 prisoners, a third of the 4,800 Palestinians in Israeli jails, began refusing food April 17 although a few had been fasting much longer - up to 77 days.

It all started when a lone prisoner, Khader Adnan initiated a hunger strike to protest his abusive arrest and administrative detention on December 17. Israeli authorities had not laid any formal

charges against him, but said he was arrested for "activities that threaten regional security.“ He was released on 18 April 2012 after being on hunger strike for 66 days.

What they want are; more family visits, an end to solitary confinement and administrative detention, a practice that has drawn international criticism on human rights grounds

Tracing back the cause for this , relatives’ visits from Gaza were suspended after Israeli soldier Gilad Shalit was captured by Palestinians and taken to Gaza in 2006. He was released in October in exchange for more than 1,000 Palestinian prisoners.



The Nonviolent Victory against Zionism

Israel yesterday agreed to relax significant elements of the regime for Palestinian prisoners in an eleventh hour deal which ended a mass hunger strike that had threatened to unleash widespread unrest across the West Bank.

This most recent wave of hunger strike was ended with agreements to allow family visits and to terminate “administrative detentions” – imprisonment without charges or trials – a practice that has drawn international criticism on human rights grounds. In return, prisoners agreed not to engage in criminal or terror activities from their cells.

Israel also agreed to improve other conditions of detention and to free administrative detainees once they complete their terms, unless they are brought to court.

Gaza’s Hamas leaders hailed the strike as a successful campaign against Israel. Celebrations quickly spread to the streets, where motorists honked horns, and passers-by embraced and shouted “Allahu Akbar”.

“This is a first step toward liberation and victory,” said Fawzi Barhoum, a Hamas spokesman.

However Zionist regime did not say whether it would free any administrative detainees, but pledged an inter-ministerial team would look at prisoner requests and issue recommendations. 

stat tracker

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme